Perjalanan Turis asing ke NTT

Desa di NTT Ini Tak Mengenal Pencuri, Pun Ada Malah Dimodalin

Muchamad Irfan – d’travelers

img_20190626223735_5d13913fa30d8.jpg– Bersama bapak Raja dan turis asing

detikTravel Community – Ke Pulau Timor belum lengkap sebelum mengunjungi Desa Adat Boti. Jaraknya 40 km dari Kota Soe, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi NTT.

Desa ini sering ditulis oleh traveler luar negeri. Sebelum pergi kami menyempatkan diri mampir ke sebuah warung yang berada di tepi jalan untuk membeli sebungkus buah pinang dan sirih kemudian kami melanjutkan perjalanan, kondisi jalan dari Soe hingga ke Pasar Niki-Niki.

Jalan yang kami lalui banyak berlubang dengan ukuran cukup besar. Jalan itu juga berbatu dan daerah bukit kapur di mana di sisi kiri dan kanan terdapat jurang sehingga perjalanan menuju Desa Boti menjadi pengalaman mendebarkan.

Cuaca siang hari di sana amat panasdan bisa bikin sangat melelahkan, debu-debu dan pecahan abu kapur berhamburan mengganggu pernafasan. Bagi kamu yang berkunjung ke Desa Boti menggunakan ojeg sebaiknya menggunakan masker.

Namun seluruh kesulitan dalam perjalanan ini terbayar di mana selama perjalanan kita akan melihat lanskap Pulau Timor yang menarik dari beragam jenis-jenis pepohonan tinggi, wilayah perbukitan hijau. Apalagi penulis juga bertemu dengan anak-anak sekolah dasar dengan seragam merah-putih yang baru saja pulang dari sekolah, dengan seyum dan keramahan mereka menyapa penulis.

Setelah lebih dari 2 jam berkendara akhirnya penulis tiba di depan pintu masuk Desa Boti. Si ojeg yang berbicara kepada warga desa mengenai tujuan saya untuk menginap dan mendokumentasikan rumah adat dan keseharian masyarakat Desa Boti.

Dalam berkomunikasi supir ojeg tersebut menggunakan Bahasa Dawan yang merupakan bahasa asli Pulau Timor. Jadi sangat disarankan untuk menggunakan jasa pemandu lokal yang mengerti Bahasa Dawan ini dikarenakan Suku Boti tidak mengenal Bahasa Indonesia.

Dengan diantar bapak tersebut penulis memasuki Desa Boti dan menunggu di teras sebuah rumah yang merupakan kediaman sang raja pemimpin desa ini. Tak berapa lama menunggu datanglah segelas kopi hitam yang hangat bersama piring-piring berisi pisang goreng, jagung dan makanan kecil lainnya yang diantarkan seorang ibu warga desa.

Dengan mengucapkan terimakasih penulis pun menyantap makanan yang disediakan. Sekitar 30 menit kemudian datang rombongan turis mancanegara berjumlah 8 orang bersama guide-nya. Soal agama yang dianut, yakni Halaika atau kepercayaan asli warga

Untuk pernikahan ternyata mereka menganut monogami di mana seorang pria hanya akan memiliki 1 istri. Hal lain yang sangat unik adalah para pria dewasa di Desa Boti memiliki rambut yang sangat panjang sehingga mereka menggelung rambutnya ini dikarenakan sesuai kepercayaan. Pria yang sudah menikah dilarang untuk memotong rambut mereka, bila ada warga yang berpindah keyakinan maka dia harus meningglkan Desa Boti.

Berbagai kegiatan di sana yakni melihat hasil kerajinan produksi warga desa berupa kain, ikat kepala dan kerajinan lainnya di sebuah rumah yang menjadi tempat penjualan souvenir. Kain tenun yang dibikin secara tradisional itu dibuat kaum wanita.

Dari seluruh rumah di Desa Boti, ada sebuah rumah yang tidak boleh difoto maupun divideokan karena menyimpan benda-benda pusaka. Hal yang menarik lainnya yakni mengenai cara menangani pencuri.

Bila di tempat lain orang yang kedapatan mencuri akan dihakimi massa dan dibawa ke polisi, di desa ini justru kebalikannya. Mereka tidak akan mengalami hal di atas dan justru sang raja dan warga desa akan memberikan modal sehingga pencuri tersebut bisa berusaha mendapatkan jalan yang baik sehingga tidak perlu mencuri lagi, oleh sebab itu di desa ini aman dari pencurian, tidak pernah ada tamu yang melaporkan kehilangan barang saat tinggal di desa ini.

(Muchamad Irfan )

Baca Juga

Ini 4 Tempat di Lembang yang Punya Wisata Kelinci

Ini 4 Tempat di Lembang yang Punya Wisata Kelinci

detikTravel | Jumat, 27 Sep 2019 14:30 WIB


Menelusuri Mosaik Sejarah di Keraton Yogyakarta

Menelusuri Mosaik Sejarah di Keraton Yogyakarta

detikTravel | Jumat, 27 Sep 2019 12:30 WIB


Ada Menara Belanda di Jatinangor, Anak Unpad Tahu Nggak?

Ada Menara Belanda di Jatinangor, Anak Unpad Tahu Nggak?

detikTravel | Kamis, 26 Sep 2019 17:37 WIB


Desa di NTT Ini Tak Mengenal Pencuri, Pun Ada Malah Dimodalin

Desa di NTT Ini Tak Mengenal Pencuri, Pun Ada Malah Dimodalin

detikTravel | Kamis, 26 Sep 2019 13:35 WIB


Lihat Jauh ke Timur, Ini Wisata Hits di Timor Tengah Selatan

Lihat Jauh ke Timur, Ini Wisata Hits di Timor Tengah Selatan

detikTravel | Kamis, 26 Sep 2019 09:45 WIB

Rekomendasi untuk Anda

Rilis Ponsel 5G Termurah, CEO Xiaomi Malah Tidak Senang

Rilis Ponsel 5G Termurah, CEO Xiaomi Malah Tidak Senang

Kamis, 26 Sep 2019 19:08 WIB


Update MIUI Camera Ungkap Fitur Rekam Video 8K Ponsel Xiaomi

Update MIUI Camera Ungkap Fitur Rekam Video 8K Ponsel Xiaomi

Kamis, 26 Sep 2019 13:21 WIB


Smartphone Murah Redmi 8A Diluncurkan

Smartphone Murah Redmi 8A Diluncurkan

Kamis, 26 Sep 2019 10:22 WIB


iPhone 11 dan Redmi Note 8 Pro Lolos TKDN

iPhone 11 dan Redmi Note 8 Pro Lolos TKDN

Kamis, 26 Sep 2019 08:25 WIB


Seluruh Bodi Diselimuti Layar, Xiaomi Mi Mix Alpha Bikin Heran

Seluruh Bodi Diselimuti Layar, Xiaomi Mi Mix Alpha Bikin Heran

Rabu, 25 Sep 2019 09:52 WIB


Mi 9 Pro 5G Dirilis, Ponsel 5G Rp 7 Jutaan

Mi 9 Pro 5G Dirilis, Ponsel 5G Rp 7 Jutaan

Rabu, 25 Sep 2019 08:30 WIB


Mi Mix Alpha, Ponsel Xiaomi Berdesain Paling 'Gila'

Mi Mix Alpha, Ponsel Xiaomi Berdesain Paling ‘Gila’

Selasa, 24 Sep 2019 19:06 WIB


Realme Optimis Bisa Salip Xiaomi di Indonesia

Realme Optimis Bisa Salip Xiaomi di Indonesia

Selasa, 24 Sep 2019 07:53 WIB


Internet RI Mau Diawasi Seperti di China? Nggak Bisa!

Internet RI Mau Diawasi Seperti di China? Nggak Bisa!

Jumat, 27 Sep 2019 13:51 WIB


Curhatan Tokopedia dan Traveloka Ngetroll Warganet, Nggak Asal Cuit Loh!

Curhatan Tokopedia dan Traveloka Ngetroll Warganet, Nggak Asal Cuit Loh!

Jumat, 27 Sep 2019 12:52 WIB

Diterbitkan oleh USATNESI

Selamat datang di Halaman saya Jangan lupa Bergabung

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai